Alkisah, saat ada wabah di suatu negeri, Umar mengajak sahabat lainnya untuk menghindar dari negeri tersebut. Sahabat bertanya, “Apakah engkau menolak takdir Allah, ya Umar?” Umar menjawab, “Aku lari dari satu takdir Allah, ke satu takdirNya yang lain.”
Beberapa waktu lalu, sebelum dipindah ke US ini, di Jepang aku pernah ikut seminar yang diadakan oleh bagian personalia kantor. Bahasannya adalah tentang bagaimana membuat pilihan dan keputusan yang efektif. Konon cara tersebut dikembangkan di Amerika ini oleh professor di satu universitas terkenal. Tapi dasar memang nggak suka perhatian terhadap judul, aku lupa nama metodanya, penemu dan di mana metoda itu dibuat. Tapi isinya insya Allah masih aku ingat dan cukup sering aku pakai.
Jika dihadapkan pada dua atau lebih pilihan, -baik pilihan besar seperti menentukan proyek dan strategi apa yang akan dijalankan oleh perusahaan, ataupun sekedar pilihan sederhana seperti mau kemana liburan Desember ini – bagaimana anda menentukan pilihan tersebut dengan efektif?
Gampang saja. Jika yang anda lakukan adalah membandingkan kelebihan dan kekurangan dari tiap pilihan yang ada, kemudian memilih opsi dengan kelebihan maksimal dan kekurangan minimal, “Selamat! Anda telah memilih dengan benar.”
Tapi tunggu dulu! Apa iya perbandingan tersebut bisa dilakukan dengan gampang? Bagaimana kalau tiap pilihan hanya punya perbedaan yang tipis dan masing-masing dalam posisi trade-off antara kelebihan dan kekurangannya? Dan celakanya tiap opsi seperti tampak sama benarnya?
Disinilah metoda tersebut menampakkan kejumawaannya.
Cara pertama adalah, lupakan dulu kekurangan atau kelemahan dari dari tiap opsi. Jadi yang harus didaftar secara serempak adalah kelebihan dan keunggulan dari tiap pilihan
Kedua, tetapkan dengan jelas apa yang kita BUTUHKAN dan apa yang kita INGINKAN. Untuk kebutuhan, beri kriteria sekonkrit mungkin. Akan sangat mantap dengan angka-angka yang jelas parameternya. Untuk keinginan, bisa dibuat lebih longgar.
Ketiga, masukkan kebutuhan dan keinginan kita pada tiap kelebihan yang ada, dan pilihkah opsi yang memiliki skor tertinggi.
Nah, itulah pilihan kita!
Mudah kan?
Lho? Lalu bagaimana dengan kelemahan dan kekurangan yang ada?
Cara keempat, setelah kita menentukan pilihan, bukalah kekurangan opsi tersebut dan lihatlah dengan seksama. Lalu katakanlah, “Nah, ini tantangan yang harus aku hadapi, bagaimana mengatasinya!”
Bingung?
Menurutku tidak. Bahkan disinilah letak keefektifan dan lebih jauh lagi ‘kejantanan’ metode ini, yang membuatku tertarik padanya. Tak pernah ada yang sempurna di dunia ini. Semua ada cacat dan celanya. Tapi jika suatu pilihan sudah memenuhi atau setidaknya mendekati KEBUTUHAN dan KEINGINAN kita, tidakkah pilihan tersebut pantas untuk diperjuangkan? Tidakkah itu cukup bagi kita untuk bertanggung jawab mengatasi atau menerima kelemahan tersebut? Jadi ya, tunggu apalagi? Itulah pilihan kita dan terimalah secara sadar konsekwensinya.
Hidup selalu adalah masalah pilihan. CMIIW, kabarnya kata ‘ikhtiar’ arti asalnya adalah memilih (di Ina sering diartikan berusaha). Akan bertahan di luar negeri atau pulang ke tanah air? Ikut muktamar IMSA di St. Louis, MO atau belajar di rumah selama winter break? Menikah atau membujang?
Bahkan lebih jauh lagi, beriman atau kafir sekalipun adalah pilihan bebas yang diberikan Allah pada kita, asal kita sadar konsekwensinya. Makanya terhadap Iblis dan pengikut sadarnya yang menyatakan diri membangkang pada Allah, Allah malah ‘memuji’ mereka dengan kata-kata, “Berilah mereka kabar gembira tentang azab yang pedih,” atau, “Alangkah sabarnya mereka terhadap api neraka.”
Albany, Tengah November 2006