ReviewPentagon (1)Sep 13, '06 2:57 PM
for everyone
Category:Other
Sebenarnya ini jurnal menjelang Ramadhan tahun lalu. Ternyata masih saja sangat relevan bagiku. Dipindah ke 'ngayal' ini, dengan mengubah gaya bahasa. Maklum, lagi kumat...:)

-Fitr Tanjuang-

----------------------------------------------------------------------------------------

Kurang dari sebulan, tamu penting itu mau datang lagi. Jaraknya sekitar perjalanan 10- 20 hari. Angin musim gugur sudah menyampaikan baunya yang wangi. Padahal di rumah belum ada persiapan apa-apa. Dia adalah tamu yang datang tiap tahun, tetapi selalu gagal disambut dan dilayani dengan sempurna. Tamu yang datang untuk membersihkan rumah, tapi sering terabaikan begitu saja. Tamu yang bakal bertandang sebulan penuh, tapi setelah dia pergi, hampir tak tampak bekas-bekas keberadaannya.

Soalnya adalah 5 penghuni rumah yang tak kompak dalam menyambut sang tamu mulia. Ada Ruh yang merupakan hardware langit, kemudian Hati sebagai softwarenya. Ada Jasad yang adalah hardware bumi, dengan Nafsu menjadi sofwarenya. Dua unsur langit dan bumi ini memang punya watak yang berbeda. Bahkan hampir dapat dikatakan bertentangan. Jadinya mereka sering berbenturan. Tapi mereka punya tugas masing-masing. Tugas yang ditetapkan dengan teguh, sehingga mereka tak bisa berpaling. Ruh dan Hati untuk melaksanakan tugas-tugas ibadah, sedang Jasad dan Nafsu untuk mengeksekusi tugas khalifah, sebagai wakil Allah. Tapi berbagai cobaan serta godaan membuat mereka sering terguncang. Akibatnya, pertengkaran dan konflik kepentingan sering datang. Semakin mereka hanya mengejar pelaksanaan tugas masing-masing, semakin mereka merasa terbelah dan bersimpang. Untung ada Akal yang jadi interface penyeimbang. Yang menjadi mediator dan negosiator. Tapi sering juga dia berkelakuan aneh, bahkan cendrung kotor.

Ruh, yang jelas-jelas putih bersih tapi selalu sedih, sudah sangat gembira sekali dengan kedatangan tamu ini. Sebagai satu-satunya yang pernah berhadap-hadapan langsung dengan Tuhannya, dia tahu persis kemuliaan dan kehormatan sang dambaan hati. Baginya ini adalah obat pelepas rindu, setelah disiksa bertahun-tahun hidup di bumi. Kesempatan lagi untuk merasakan keagungan dan kesakralan langit, masa indah sebelum dia dititah turun. Ah, betapa rindunya dia dengan saat-saat ketika Tuhan menyapanya dengan ucapan "Alastu birabbikum?"

Hati sebenarnya kompak dengan Ruh, karena dialah yang menggerakkan Ruh setelah diinstall kesana.Tapi dasar Hati yang sering berbolak-balik, kecendrungannya sering berubah-ubah tanpa dapat disangka. “Aki no sora (langit di musim gugur),” kata orang Jepang. Apalagi karena banyaknya kotoran yang belum tercuci, akhir-akhir ini dia makin belang-belang. Padahal awalnya dia juga putih cemerlang. Tapi kemudian dia dihinggapi debu, baik yang kecil berskala nano, atau yang besar berdiameter giga. Dan sebelum sempat dibersihkan semuanya, datang lagi debu-debu lain bertaburan di badannya. Berbagai virus mulai dari yang jinak sampai ganas telah bermukim pula di sana. Tak jarang dia error dalam dalam melaksanakan tugasnya. Nur langit sering hanya mampu terserap beberapa persen. Posisinya sebagai raja akhir-akhir ini lebih sering dikudai oleh Nafsu yang tampak makin keren.

Jasad paling nyaman dengan tanah bumi. Karena memang tanahlah awal mula penciptaan diri. Sebagai tampilan paling kasat mata dan public relation keluarga, sebenarnya posisinya paling enak saat ini. Dia punya mata yang dengan itu melihat keindahan dunia, punya telinga yang dengan itu bisa mendengarkan merdunya suara, dan punya anggota tubuh yang dengan itu dia bisa bekerja mewujudkan cita-cita. Tapi posisinya hanyalah pelaksana belaka. Empat anggota keluarga lainnyalah yang memberikan perintah padanya. Apalagi dunia memang berisi kepayahan-kepayahan, dimana dia adalah penanggung pertamanya.

Nafsu adalah yang sangat menikmati dunia dan tugas kebumiannya. Tugasnya memang mengekplorasi dunia. Maka dialah yang paling siap menjadi wakil rumah. Tak jarang dia seenaknya kesana kemari merambah dan menjelajah. Dia bisa mengontrol Jasad, mengompori Akal, bahkan sampai mempengaruhi Hati dengan mudah. Posisinya akhir-akhir ini makin kuat dan mengakar. Bahkan kalau dia mau, dia bisa mengkudeta kedudukan Hati dan hampir saja dilakukannya dengan lancar.

Akal yang jadi interface sebenarnya paling tinggi diantara mereka. Banyak ilmu yang bisa diserap dan disebarkan pada saudara-saudaranya. Dialah yang menerjemahkan dan memberikan definisi segala fenomena kepada yang lain, sehingga mereka bisa tenang menjalankan tugas masing-masing. Dan yang penting, dia punya tugas menjaga balance antar unsur langit dan bumi agar tak pontang-panting. Tapi tak jarang dia terpengaruh juga oleh salah satunya dan terpancing. Sehingga dia akhirnya memberikan alasan-alasan pembenaran pada tindakan mereka yang kadang keterlaluan dan membuat pusing.

Dan saat ini, mereka berkumpul di ruang tengah yang juga masih berantakan dan kotor. Sebagai penengah, Akal otomatis ditunjuk menjadi moderator. Ruh dan Hati duduk di kanan. Mereka mendatangkan suporter para malaikat yang memberikan bisikan-bisikan lembut menyejukkan. Sedang Nafsu dan Jasad duduk di kiri. Mereka juga punya supporter barisan jin dan setan yang dengan gesit dan genit mengompori. Ada juga di barisan mereka nenek tua yang sudah sangat keriputan dan beruban, tapi berdandan dengan menor tak tahu diri. Seluruh badannya dibalut emas dan segala perhiasan. Bahkan giginyapun kuning mengkilap dilapis emas yang menyilaukan. Tapi mereka tak lebih dari supporter dan penggembira. Mereka boleh berteriak atau berbisik, tapi tak bisa memaksa. Keputusan tetap ada pada 5 bersaudara ini yang kini siap adu suara.

"Baiklah saudara-saudaraku. Kita mulai diskusi masalah penyambutan tamu tahunan ini," Akal mengucapkan kata pembukaan. Dia memandang sekeliling sambil memegang buku catatan.

-- bersambung --

imazahra wrote on Sep 13, '06
Oh iya, daku udah baca ya Uda :-D
*iya, relevan banget duuuuung* :-D
fitrtanjuang wrote on Sep 13, '06
Oh iya, daku udah baca ya Uda :-D
*iya, relevan banget duuuuung* :-D
Iya, ini tulisan tahun lalu yang dikemas berbeda aja.
Artinya, nggak ada peningkatan dari tahun lalu...hiks
Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.