ReviewPentagon (2)Sep 13, '06 3:02 PM
for everyone
Category:Other
"Baiklah saudara-saudaraku. Kita mulai diskusi masalah penyambutan tamu tahunan ini," Akal mengucapkan kata pembukaan. Dia memandang sekeliling sambil memegang buku catatan.

"Seperti yang kita tahu, rumah kita sangat berantakan. Kamar-kamar tak tertata, dinding mulai mengelupas dan berjamur sedang dapur udah hitam oleh asap jelaga. Jadi dengan apa kita menyambut tamu yang nggak bisa ditolak ini. Memang, tamu ini akan datang untuk membersihkan rumah kita. Tapi tanpa persiapan awal dari kita sendiri, bisa-bisa nggak ada efeknya. Jadi kita harus mulai duluan. Dan yang penting, menemukan alasan kenapa rumah kita begitu kotor, dan kemudian bagaimana membersihkannya," lanjutnya memberi kata sambutan.

"Pokoknya kita harus menyambut besar-besaran kedatangan tamu agung ini. Aku nggak mau lagi kecolongan!" Ruh berkata dengan lantang, sampai lupa tunjuk tangan.

"Iya, maksud kita memang begitu. Tapi bagaimana caranya?" tanya Akal meminta penjelasan.

"Ini semua salah Jasad," tiba-tiba Hati menyelutuk. "Dialah yang membawa kaki, tangan dan mata kemana-mana sehingga imunitas kebersihan kita makin jebol. Aku jadi jelek kini khan gara-gara dia," tuduh Hati kepada Jasad sambil merutuk.

"Sembarangan! Aku ini hanya alat kalian." Jasad membela diri. "Nafsulah yang saat ini mengendalikanku. Dia yang menginginkan segalanya. Kayak anak kecil yang meraung keras jika kemauannya tidak dituruti." Jasad menunjuk hidung Nafsu sambil berdiri.

"Enak aja main tuduh!. Aku hanya menjalankan tugas. Tahu nggak?!" Mendapat tuduhan Nafsu langsung jadi emosi. "Sebagai pelaksana cita-cita kekhalifahan di muka bumi, aku hanya bertugas semaksimal mungkin. Kalau aku malas-malasan, apa jadinya kalian?" balas Nafsu sambil membusungkan dada dan membanggakan diri.

"Tapi kamu keterlaluan, Nafsu!" teriak Ruh lugas. Tapi suaranya tidak bisa keras. "Ingat, kita juga punya tugas langit. Harus adil dong," tambahnya memelas.

"Iya, tapi itu khan tugas Hati untuk mengontrol!" Nafsu segera membalas.

"Sabar, sabar, saudara-saudaraku.…Jangan langsung emosi begitulah," Akal berusaha menengahi. Sepertinya mereka lupa kalau dia masih jadi moderator dan masih di sini.

Hati minta izin bicara sambil mengangkat tangan. Akal menyilahkan.

"Kalau kalian terus-terusan mengejar dunia...," kata Hati sambil menunjuk nenak tua yang ada di barisan jin dan setan (yang ditunjuk cuman nyengir-nyengir bahkan mengedipkan mata menggoda Hati), "...aku khan kena debu terus menerus sampai nggak bisa lagi melihat dengan baik. Jadi kalianlah yang bertanggung jawab!" Hati menatap tajam pada Nafsu dan Jasad dengan pandangan tuduhan.

"Pokoknya aku nggak mau tahu. Kalian semualah yang mengendalikanku. Aku hanya jadi kuda tunggang. Jangan seenaknya melemparkan tuduhan dong," Jasad mulai kesal.

"Nafsulah yang merusak segalanya. Kamu memang nggak bisa mengontrol diri. Kamu hanya bisa dicekal dengan paksa," Ruh makin sedih dengan wajah penuh sesal.

"Kalau kalian mencekalku, apa jadinya kita disini? Kalian pikir kalau aku dicekal habis kalian masih bisa beraktifitas dengan baik?!" Nafsu mulai naik darah. "Hatilah yang paling bertanggung jawab. Diakan dari awal adalah raja," tambah Nafsu dengan keras sampai nafasnya terengah.

"Kamu juga terlibat, Ruh. Kamu khan pertahanan terakhir kita. Jangan hanya menuntut dong. Bertanggung jawablah. Kamu khan tau, kalau aku tidak kuasa terhadap diriku sendiri. Aku sering dibolak-balik tanpa kuasa aku lawan. Harusnya kamu juga membantu agar aku bisa teguh dan stabil." Hati melempar pandangan menuntut pada Ruh.

"Nggak bisa. Pokoknya nggak bisa. Kalau kalian menyalah-nyalahkan aku, aku minggat dari rumah ini," tiba-tiba Ruh mengancam, sedang bendungan airmatanya mulai rubuh.

"Jangan!!" semua jadi kecemasan. "Kalau kamu minggat, rumah ini pecah jadinya," serentak mereka memohon pada Ruh yang makin larut dalam kesedihan.

"Kamu juga dong, Nafsu. Disiplin dikit kenapa sih?" Jasad dan Hati memandang Nafsu yang makin panas dan bergejolak.

"Lho, tamu ini khan datang untuk memenjarakan aku sebulan penuh?! Udah cukup khan? Sebelas bulan lainnya biarkan aku bebas dong!" Nafsu dengan keras berteriak. Emosinya seperti sudah mau meledak.

Teriakan Nafsu membuat mereka terdiam membisu. Apalagi barisan setan mulai berdendang dan beryel-yel mendukung Nafsu. Ruh yang makin tersiksa mendengar teriakan-teriakan setan mencoba mencari dukungan pada barisan malaikat. Tapi seperti biasa mereka hanya berbisik lembut dan lambat. Kalah dengan dengungan barisan setan yang dahsyat. Sejenak kemudian Ruh menoleh kepada Hati dengan tatapan lekat.

"Kalau begitu, kita minta aja diinstall Hati yang baru pada Allah. Hati yang masih bersih dan benar-benar mampu menjadi raja," ucap Ruh perlahan.

"Jangan begitu dong!" suara Hati tercekat di tenggorokan. "Masa kalian tega sama aku? OK lah minta diupgrade aja ya, tapi jangan diinstall ulang....," Hati memohon dengan wajah sendu. Suasana makin tak menentu. Bisikan-bisikan malaikat dan teriakan-teriakan setan makin membahana dan menggebu.

"Akal!!!" tiba-tiba mereka berteriak serentak. "Sekarang tugas kamu membuat keputusan!"

Akal kaget tersentak. Hampir saja dia terjatuh dari kursi mendengar teriakan saudara-saudaranya yang kompak dan serempak.

"Aku sih....gimana kalian ajalah...," Akal ternyata panik dengan perdebatan mereka. Dia tidak bisa memberikan jawaban apa-apa.

Ruh mulai menangis tersedu-sedu. Hati membolak-balik badannya yang makin berdebu. Nafsu makin terprovokasi emosinya dan mukanya merah padam menahan marah yang menggebu. Jasad cuman bisa berjalan mondar-mandir kiri-kanan tak menentu, Sedangkah Akal juga makin kebingungan. Dia tidak bisa membuat keputusan, tidak juga sekedar pendapat dan pandangan. Pandangan mata saudara-saudaranya membuatnya salah tingkah. Rambutnya rontok beberapa lembar menyentuh tanah. Bingung, pusing dan gundah. Dia baru sadar kalau kebanyakan dijejali teori relativisme dan nihilisme bisa jadi masalah!

-Selesai-

Albany, menjelang Ramadhan 1426
*Masih saja tak siap menyambutmu*

11 CommentsChronological   Reverse   Threaded
deeyand wrote on Sep 13, '06
No comment dah buat postingan yg ini *tersindir mode--belon siap juga nyambut ramadhan:(*
deeyand wrote on Sep 13, '06
"Kalau kalian terus-terusan mengejar dunia...," kata Hati sambil menunjuk nenak tua yang ada di barisan jin dan setan (yang ditunjuk cuman nyengir-nyengir bahkan mengedipkan mata menggoda Hati), "
hehehe
*comment juga, abis analoginya luthu*
fitrtanjuang wrote on Sep 14, '06
deeyand said
No comment dah buat postingan yg ini *tersindir mode--belon siap juga nyambut ramadhan:(*
Memang susah untuk siap ya...
Perasaan, 'zero sum process' aja setahun ini. Atau jangan2 minus...hiks
fitrtanjuang wrote on Sep 14, '06
deeyand said
hehehe
*comment juga, abis analoginya luthu*
Personifikasi dunia dengan nenek tua yang dandanannya menor kan ada di kisah Isra' Mi'raj. Jadi nggak asal ngayal...hehehe
deeyand wrote on Sep 14, '06
Perasaan, 'zero sum process' aja setahun ini. Atau jangan2 minus...hiks
kalo saya minus kayaknya, aduh payah banget :(. moga bisa diboosting dalam sisa waktu menjelang *gak yakin*
deeyand wrote on Sep 14, '06
Personifikasi dunia dengan nenek tua yang dandanannya menor kan ada di kisah Isra' Mi'raj. Jadi nggak asal ngayal.
iya, cuma tambahan nyengir dan ngedipin mata itu yg bikin saya ketawa bacanya *meski abis itu down sendiri ramadhan dah di dpn mata*
fitrtanjuang wrote on Sep 14, '06
deeyand said
moga bisa diboosting dalam sisa waktu menjelang *gak yakin*
Bagi2 caranya dong...:)
fitrtanjuang wrote on Sep 14, '06
deeyand said
iya, cuma tambahan nyengir dan ngedipin mata itu yg bikin saya ketawa bacanya *meski abis itu down sendiri ramadhan dah di dpn mata*
hehehe..
Kalau tingkahnya begitu, para wanita mungkin nggak begitu tergoda dengan dunia ya...
deeyand wrote on Sep 14, '06
Bagi2 caranya dong...:)
Walaah, salah orang, Da. minta ke aku ntar tambah ancurrr hehe.
Ehm, shaum syabannya kali ya dibanyakin (masih ada waktu) plus bikin rencana ramadhan kali ya?
fitrtanjuang wrote on Sep 14, '06
deeyand said
Walaah, salah orang, Da. minta ke aku ntar tambah ancurrr hehe.
Ehm, shaum syabannya kali ya dibanyakin (masih ada waktu) plus bikin rencana ramadhan kali ya?
Sip bos...:)
Di Ina udah pasti 24 September mulainya?
deeyand wrote on Sep 14, '06
Di Ina udah pasti 24 September mulainya?
kayaknya sih, da, tapi wallahu'alam juga sih persisnya...
Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.