ReviewTsunami di Kota Kami (1)Dec 27, '06 12:45 PM
for everyone
Category:Other
“Tidak, sekali-kali aku tidak akan meninggalkan rumah ini!”

“Tapi, Nek... Ini demi keselamatan Nenek sendiri.”

“Apa pedulimu pada keselamatanku? Berpuluh tahun aku tinggal disini, dan tak pernah ada tsumani seperti yang kalian ancamkan!”

“Aku tidak mengancam, Nek.”

“Sudah! Pergi dari rumahku!” Dan, “Brak!” pintu papan rumah itu tertutup seketika.

***
Karim mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, menembus jalan pantai Padang sambil meninggalkan kepulan debu di belakangnya. Beberapa pejalan kaki menyumpahi ulahnya yang membuat mereka terbatuk-batuk. Keindahan pantai Padang menjadi rusak oleh suara motor dan tebaran debu yang ditinggalkannya Tapi Karim tak peduli. Hatinya masih panas karena ulah Nenek Rumi yang keras kepala.

Sudah berkali-kali dia mengingatkan si nenek tua itu agar pindah dari rumahnya yang persis berdiri di pinggir pantai Padang. Rumah itu sudah sangat usang dan menjorok ke lautan, sedang tanah tempat berdirinya juga termasuk tanah rawan longsor. Sedikit gempa dan ombak akan dengan mudah meluluhlantakkan rumah tersebut, bersama Nenek Rumi tentunya. Begitu hasil analisa Karim dan teman-temannya di LSM Tanggap Bencana Padang.

Sesampainya di kantor, Karim melemparkan helmnya dengan keras ke meja sehingga menimbulkan bunyi berisik yang memancing perhatian semua orang. Hanya ada 5 staf saat itu, yang lagi asyik mengutak-atik komputer, membuat simulasi bencana.

“Nenek keras kepala!” Karim memaki, sambil meninju mejanya dengan keras.

“Ada apa, Karim? Jangan membuat kami jantungan dong.” Hamid, ketua LSM mereka mendekati Karim yang masih uring-uringan.

“Kita pakai Satgas PP aja, Uda.” Karim tak menjawab pertanyaan Hamid.

“Untuk apa memakai Satgas PP? Apa hubungannya dengan nenekmu?” Hamid bingung dengan ocehan Karim.

“Bukan nenekku, Da. Tapi Nenek Rumi yang tinggal di pantai Padang itu.” Hamid mulai paham kemana arah pembicaraan Karim. “Sudah berkali-kali aku ingatkan agar pindah dari rumahnya yang sangat rawan bencana. Tapi tetap saja dia tidak mau!” sambung Karim, masih dengan nada jengkel.

“Sabarlah, Karim. Mungkin kita perlu pendekatan yang lebih baik dan penjelasan yang lebih gampang diterima beliau.” Hamid menasehati.

“Sampai kapan, Da? Sampai gempa dan tsunami datang menenggelamkannya?” suara Karim sedikit bergetar.

Hamid bisa memahami kegusaran Karim. Sejak tragedi tsunami Aceh yang menewaskan puluhan ribu orang, kota Padang disebut-sebut sebagai kota paling rawan untuk musibah serupa. Tapi pengetahuan dan kesiapan masyarakat untuk menghadapi tsunami masih jauh dari cukup. Untuk itulah dia mendirikan LSM Tanggap Bencana. Hamid berharap dengan keberadaan organisaninya, masyarakat kota Padang jadi siap dan punya pengetahuan yang cukup saat berhadapan dengan bencana. Berbagai program telah mereka rancang dan jalankan. Diantaranya adalah pelatihan serentak yang dilakukan di seluruh kecamatan yang ada di kota Padang. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit masyarakat mulai punya kesadaran untuk siap dan tanggap terhadap bencana, yang akhir-akhir ini menyerang Nusantara secara merata. Walaupun begitu, masih banyak warga yang tak mau peduli. Bahkan sebagian mereka menganggap tabu untuk bicara bencana. “Apa yang kalian lakukan itu sama dengan mengundang malapetaka itu sendiri,” demikian sebagian protes mereka. Hamid hanya bisa geleng-geleng kepala.

Dan Karim adalah salah satu stafnya untuk penyuluhan masyarakat. Karim dikenal punya semangat dan dedikasi tinggi untuk itu. Perhatiannya pada tugas bahkan sampai menelantarkan kuliahnya. Tapi temperamennya yang keras dan tak sabar sering juga membuat masalah. Hamid ingat saat Karim mencaci-maki walikota dan anggota DPRD kota Padang yang dianggapnya lamban merespon proposal mereka.

“Celaka kalian! Apa kalian ingin kejadian Aceh terulang dulu di sini sampai kalian mau berbuat sesuatu untuk rakyat!” teriak Karim saat mereka mengajukan proposal tahun lalu. Kata-katanya itu membuat wajah para pejabat daerah merah padam menahan marah. Untung saja mereka tidak mengadukan Karim ke kepolisian dengan delik penghinaan. Tapi Hamid harus menyeret Karim keluar dari kantor walikota untuk menasehatinya dengan keras, dan kemudian minta maaf pada walikota dan pejabat lainnya.

Kenyataannya, pejabat kota menunjukkan perhatian dan kerjasama yang lebih dari apa yang mereka harapkan. Pelatihan telah dilaksanakan, berbagai brosur dan buku petunjuk juga telah dibagikan. Peta evakuasi juga telah dipasang di tiap kantor kelurahan sehingga masyarakat tahu apa yanag harus mereka lakukan. Sirine juga dipasang oleh pemerintah kota bekerja sama dengan lembaga penelitian yang ada di Jakarta. Bahkan untuk warga yang tinggal di daerah rawan juga telah disiapkan rumah pengganti yang jauh dari pinggir pantai. Pemerintah kota telah menunjukkan kepedulian yang tinggi dengan program-progran yang nyata.

Tapi tidak semua warga mau dipindahkan. Salah satunya adalah Nenek Rumi. Dan keras kepalanya Nenek Rumi bertemu dengan kekasaran Karim. Tak pernah mereka bertemu, melainkan akan jadi ajang adu mulut. Hamid sebenarnya telah menunjuk staf yang lain untuk bicara dengan Nenek Rumi. Tapi entah kenapa, untuk nenek satu ini Karim bersikeras ingin melakukannya sendiri. Dan Hamid tahu, permintaan agar melibatkan satgas PP untuk memindahkan Nenek Rumi secara paksa hanyalah ekspresi kejengkelan Karim yang sedang memuncak.

***bersambung***
foto dari : http://www.thank-water.net/image/2005-09-04/flood-after.jpg


arifbastari wrote on Dec 27, '06
Semoga aparat dan rakyat didaerah pantai dapat bekerjasama demi keselamatan bersama.
fitrtanjuang wrote on Dec 27, '06
Semoga aparat dan rakyat didaerah pantai dapat bekerjasama demi keselamatan bersama.
Semoga ya.
Waktu pelatihan di Bali kemarin, kebanyakan peserta kabarnya tidak serius.
2 tahun sepertinya cukup menghapus memori kita.....
maryamilyas wrote on Dec 27, '06
Lagi penasaran ama sambungannya...
Lanjut ah, Da!
fitrtanjuang wrote on Dec 27, '06
Lagi penasaran ama sambungannya...
Lanjut ah, Da!
Silahkan, Ni
familiedyka wrote on Dec 28, '06
baca sambungannya dulu yaa..
fitrtanjuang wrote on Dec 28, '06
baca sambungannya dulu yaa..
Yep....
Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.