Ombak laut membasahi kaki Karim yang berjalan dengan santai. Matahari senja mulai melunak cahayanya, membentuk warna kemerahan di langit barat. Nelayan tampak mulai mempersiapkan diri untuk melaut. Anak-anak kecil bermain riang di pinggir pantai. Suara ombak dan kicau burung camar melantunkan melodi indah yang menyejukkan hati. Keindahan alam yang begitu mempesona. Siapa yang bisa menduga bahwa laut yang sama sangat siap untuk meluluhlantakkan peradaban manusia?
Karim berjalan pelan mendekati rumah tua itu. Pondok. Mungkin itu sebutan yang tepat untuk tempat kediaman Nenek Rumi. Nenek keras hati yang tidak mau sedikit pun beranjak dari sana. Sudah belasan kali Karim membujuknya, mulai dari cara halus sampai dengan bertengkar keras. Tapi hampir tak ada hasilnya. Semakin sering Karim datang, semakin kukuh dia bertahan di rumah itu.
Padahal Nenek Rumi tinggal sendiri di rumah itu. Tidak ada keluarga. Tak ada anak dan suami, ataupun cucu-cucu yang menemani. Karim bahkan tak habis pikir dengan apa beliau membiayai hidupnya. Melaut? Ah, tak mungkin. Beliau sudah terlalu tua untuk itu. Lagi pula tidak ada tanda-tanda beliau punya sampan atau perahu. Karim sudah capek bertengkar dengan Nenek Rumi. Dan hari ini dia ingin bicara dari hati ke hati dengan beliau.
Ingatan Karim melayang pada orang tuanya yang ada di kampung. Rumah mereka ada di pinggir bukit barisan. Sekarang hanya tinggal ayah di sana. Ibunya telah lama meninggal, tertimbun longsor yang datang tiap tahun pada musim hujan. Saat itu, Karim kecil hanya mampu menangis histeris, waktu mendapati ibunya menghilang dalam benaman tanah dan lumpur. Dan Nenek Rumi benar-benar mengingatkan Karim pada ibunya.
Karim mengetuk pintu rumah Nenek Rumi dengan lunak. Tapi tak ada jawaban sama sekali. Ternyata pintu itu tidak terkunci. Karim membuka pintu itu mengikuti nalurinya. Pintu terbuka dengan suara menciut karena papannya yang sudah tua. Tak ada siapa-siapa di sana.
Karim berjalan ke halaman belakang yang di penuhi belukar. Tampak Nenek Rumi sedang duduk bersimpuh di sebuah pusara. Kuburan itu telah tua dan kusam, tapi bersih terpelihara.
“Uda, aku tak akan meninggalkan kau sendiri di sini,” suara Nenek Rumi terdengar lirih. Langkah kaki Karim tertahan mendengar suara itu.
“Kata mereka akan ada tsunami. Dan mereka ingin aku pindah.” Nenek Rumi menahan nafas sejenak.
“Ada anak muda tampan yang datang bertandang tiap hari untuk membujukku. Lumayan untuk jadi teman berbincang. Tapi Uda tidak perlu cemburu lah, hehehe,“ Nenek Rumi tertawa sendiri.
“Aku takkan pernah meninggalkan Uda. Biarlah aku mati di sini daripada kita berpisah.” Nenek Rumi memeluk pusara itu lembut. Tubuhnya berguncang mengikuti tangisannya yang tertahan.
Karim hanya bisa terpaku menatap pemandangan di depannya. Punggung tua itu tampak menyimpan kesepian yang dalam. Karim menunduk, menggigit bibirnya dengan keras. Kemudian, tanpa menimbulkan suara, Karim beranjak dari tempat itu, meninggalkan Nenek Rumi yang masih bersimpuh memeluk kuburan suaminya.
***
“Braammm!”
Karim sedang mengemudikan motornya ketika tiba-tiba bumi berguncang dengan hebatnya. Hampir saja dia menabrak mobil di depannya, yang tiba-tiba bergerak zig-zag karena sopirnya juga kaget karena gempa. Orang-orang berhamburan keluar dari rumah dan segera tiarap ke tanah. Sebagian berlarian dengan paniknya tak tentu arah. Teriakan ketakutan terdengar di mana-mana. Dinding sebagian rumah terlihat retak. Tiang listrik mulai rubuh bersamaan dengan percikan api dari kabelnya.
Lima menit kemudian, Karim segera bisa mengendalikan dirinya. Tapi firasat buruk datang menyergap dadanya. “Nenek Rumi...,” desahnya ketika tiba-tiba wajah tua itu muncul di pelupuk matanya. Karim segera memacu motornya dengan kecepatan tinggi menuju pantai, menembus berbagai keruwetan dan kemacetan yang mendadak tertumpuk di jalan raya.
Dan,” Aaaaaa...!!!,” raungan sirine peringatan tsunami menggema di seluruh kota. Billboard elektronik di pasar raya mengumumkan adanya bahaya tsunami dan memperingatkan warga agar segera menjauhi pantai. Ratusan warga pantai segera berhambur melarikan diri menuju daerah perbukitan. Tak sampai 10 menit kemudian, puluhan polisi, satgas PP dan petugas pemadam kebakaran bermunculan begitu saja dari berbagai penjuru, bersiap membantu evakuasi warga. Tampak walikota berada di tengah mereka, dengan memegang HP dan radio. Wajahnya tegang dan kaku, tapi dengan sigapnya memberi instruksi pada bawahannya.
“Tinggal 5 menit lagi,” Karim berbisik. Ya, biasanya tsunami akan datang dalam waktu kurang dari 20 menit. Karim makin memacu kendaraannya menembus arus manusia yang lari berlawanan arah dengannya. Dengan melewati jalan tikus di belakang pasar, dengan cepat Karim sudah mencapai pantai. Air laut menyusut. Ikan-ikan tampak menggelepar. Dapat dipastikan tsunami akan datang menggulung kota Padang. Karim memacu motornya di jalan berbatu menuju rumah nenek Rumi.
“Nek Rumiiiii!” teriak Karim sambil meloncat dari motornya begitu saja. Segera digedornya pintu rumah tersebut sehingga terbuka. Tak tampak Nenek Rumi di dalam sana, di tengah perabotan yang berantakan. Karim segera berlari menuju belakang rumah. Pandangan matanya segera tertumbuk pada tubuh tua itu yang sedang duduk dengan tenangnya di depan makam suaminya.
“Nek, kita harus segera mengungsi!” tangan Karim segera menyambar tubuh tua itu. Tapi Nenek Rumi tak bergeming.
“Nek Rumi...!” teriakan Karim terdengar memelas. Tapi Nenek Rumi hanya tersenyum.
“Segeralah engkau meninggalkan tempat ini. Selamatkan dirimu.” Suara Nenek Rumi terdengar datar.
“Tapi, Nek...”
“Aku tak kan beranjak dari sini.”
“Whuuuuu!” Pembicaraan mereka tiba-tiba tenggelam dalam suara gemuruh yang datang dari laut. Ombak besar bergulung setinggi 5 meter bergerak cepat menuju pantai. Nenek Rumi berdiri tenang menatap lurus kepada ombak tersebut, yang hanya tinggal beberapa meter darinya. Karim tak tahan melihat pemandangan di depannya.
“Ibu...!” sambil berteriak keras Karim memeluk Nenek Rumi dengan kuatnya. Bersamaan dengan itu ombak tsunami menyambar tubuh mereka berdua. Hantaman keras membuat Karim limbung, tapi dengan kukuh dipeluknya tubuh Nenek Rumi. Ombak menyeret mereka begitu saja memasuki badan jalan, sambil menghempaskan berbagai benda ke tubuh mereka. Tapi Karim melindungi tubuh beliau dari tiap hantaman dengan tubuhnya sendiri. Perih dan pedih. Tapi tak sempat lagi Karim memikirkannya.
Sambil mengikuti arah ombak yang makin menaiki kota, Karim berenang ke permukaan agar dapat terus bernafas. Nenek Rumi tak bergerak sama sekali karena sudah duluan pingsan tak sadarkan diri. Entah sudah berapa puluh meter mereka terseret, ketika tiba-tiba tubuh mereka tertahan di puncak sebatang pohon. Karim segera berpegang erat ke dahan pohon tersebut dengan satu tangan dan kedua kakinya, sedang satu tangannya lagi tetap dengan kuatnya memeluk Nenek Rumi.
Sekeliling mereka telah berubah menjadi lautan, membawa berbagai barang dan rongsokan. Karim terus bertahan di puncak pohon itu, sambil berdoa memohon perlindungan. Tangan dan kakinya telah terasa tegang dan kaku, tapi pegangannya pada pohon dan pelukannya pada Nenek Rumi tak hendak dilepaskannya. Hantaman ombak dan berbagai benda yang menimpa tubuhnya tak membuatnya bergeming sedikitpun. Tapi kesadaran Karim mulai hilang sedikit demi sedikit.
Entah berapa lama kemudian, Karim terbangun oleh suara helikopter yang menggebu di atas kepalanya. Ombak mulai mereda dan turun menjadi setengah ketinggian pohon tempat dia bergantung. Tapi sekeliling masih dipenuhi air yang membawa sampah. Nenek Rumi juga mulai siuman, tapi tak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali.
“Kalian tidak apa-apa? Bertahanlah di situ. Kami akan segera menolong kalian!” teriakan suara petugas dari helikopter hilang ditelan gemuruh suara mesin dan baling-baling.
“Tidak apa-apa, Pak. Tidak ada yang terluka,” balas Karim dengan suara lemah.
Petugas segera mengangkat Nenek Rumi ke dalam helikopter. Mereka tampak takjub melihat tubuhnya yang tampak tak tergores sama sekali. Hanya pakaiannya yang robek dan compang-camping.
Petugas memandang Karim dengan tatapan mata penuh kekaguman. Karim hanya membalas dengan senyum lega. Kemudian dia menutup matanya untuk beristirahat lagi. Nafasnya terdengar panjang, melemaskan otot-ototnya yang masih kaku. Puluhan luka tampak di sekujur tubuh dan mukanya. Dan sebuah dahan menancap dalam di daging punggungnya, meninggalkan luka yang terus mengalirkan darah. Iya, tidak ada yang terluka, selain dirinya.
Tamat
foto dari sini :
http://www.bccn.boone.in.us/zll/photos/flood-cages_5-13-02.jpgAlbany-NY, Sept 2006
Fitr Tanjuang
SELAMAT HARI RAYA QURBAN DAN TERIRING DOA UNTUK PARA KORBAN TSUNAMI.